Uncategorized

Silaturahmi Akbar Berjalan Aman dan Kondusif, KKMM Sultra: Terimakasih Atas Dukungan Masyarakat dan Aparat Kepolisian

32
×

Silaturahmi Akbar Berjalan Aman dan Kondusif, KKMM Sultra: Terimakasih Atas Dukungan Masyarakat dan Aparat Kepolisian

Sebarkan artikel ini

Sultravisionary.id: KENDARI – Kerukunan Keluarga Masyarakat Muna (KKMM) Sulawesi Tenggara sukses menggelar Silaturahmi Akbar yang dipusatkan di kawasan Eks MTQ dan Tugu Religi Kota Kendari, Minggu (19/7/2026). Perhelatan budaya terbesar masyarakat Muna tersebut berlangsung meriah dan berhasil mencatatkan sejarah baru dengan meraih penghargaan Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

Dalam kegiatan tersebut, panitia tidak hanya memenuhi target penyajian 1.000 dulang, tetapi berhasil menghadirkan sebanyak 1.228 dulang. Capaian itu mengantarkan KKMM Sultra menerima Piagam Penghargaan MURI untuk kategori “Ritual Haroa dengan Sajian Makanan Menggunakan Dulang Terbanyak.”

Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas komitmen masyarakat Muna dalam melestarikan tradisi Haroa sebagai warisan budaya yang sarat dengan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap adat istiadat.

Mengusung tema “Merajut Persaudaraan, Melestarikan Adat dalam Semangat Kawunaha yang Luhur Menuju Indonesia Emas 2045,” kegiatan ini dihadiri sekitar 10.000 peserta. Ribuan warga Muna dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara, bersama masyarakat umum, memadati lokasi untuk menyaksikan beragam atraksi budaya khas Wuna yang ditampilkan sepanjang acara.

Ketua Panitia Pelaksana, Dr. LM Bariun, S.H., M.H., mengungkapkan rasa syukur atas suksesnya seluruh rangkaian kegiatan. Menurutnya, keberhasilan menghadirkan 1.228 dulang yang melampaui target menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong dan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya leluhur.

“Momentum ini bukan sekadar mempertemukan masyarakat dalam ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi upaya memperkenalkan kembali nilai-nilai Kawunaha kepada generasi muda. Alhamdulillah, kita tidak hanya mencapai target, tetapi berhasil menyajikan 1.228 dulang dan meraih Rekor MURI. Ini adalah kebanggaan seluruh masyarakat Muna,” ujar LM Bariun.

Dalam budaya Muna, dulang bukan sekadar wadah penyajian makanan. Dulang memiliki makna filosofis sebagai simbol penghormatan kepada tamu, kebersamaan, solidaritas, serta semangat gotong royong yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Sementara itu, Koordinator Humas kegiatan, La Ode Muhram Naadu, menyampaikan bahwa keberhasilan penyelenggaraan acara merupakan hasil kerja sama seluruh panitia dan dukungan masyarakat Muna dari berbagai daerah serta bantuan pengamanan dari teman-teman kepolisian khususnya polda sultra.

Menurutnya, penghargaan MURI menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu menjadi kebanggaan nasional apabila terus dijaga, dikembangkan, dan dilestarikan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi Ritual Haroa, yakni doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prosesi sakral tersebut menjadi pembuka sebelum ribuan peserta menikmati hidangan yang tersusun rapi di atas 1.228 dulang.

Suasana semakin semarak dengan penampilan berbagai atraksi budaya khas Wuna, di antaranya Perkelahian Kuda, tradisi ketangkasan yang menggambarkan keberanian, kekuatan, dan sportivitas tanpa bertujuan menyakiti hewan, melainkan sebagai simbol adu ketangkasan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu, pengunjung juga disuguhkan Tari Linda yang menampilkan kelembutan gerak dan kekompakan para penari, Modero sebagai tarian pergaulan yang melambangkan persaudaraan dan kebersamaan, tradisi berbalas pantun dalam bahasa Muna, serta atraksi Ewa Wuna, seni bela diri tradisional masyarakat Muna yang telah diwariskan sejak zaman dahulu sebagai bagian dari kearifan lokal.

Keberhasilan penyelenggaraan Silaturahmi Akbar KKMM Sultra sekaligus diraihnya Rekor MURI diharapkan menjadi momentum untuk semakin memperkuat persatuan masyarakat Muna, sekaligus memotivasi seluruh elemen masyarakat agar terus menjaga, mengembangkan, dan memperkenalkan budaya Muna kepada generasi muda maupun masyarakat Indonesia. Dengan demikian, warisan budaya tersebut akan tetap lestari sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa menuju Indonesia Emas 2045. (Mw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *