Sultravisionary.id,Kendari – Menjelang perhelatan internasional United Cities and Local Governments Asia-Pacific (UCLG ASPAC) 2026 yang dirangkaikan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Kendari, Pemerintah Kota Kendari tengah gencar melakukan pembenahan, terutama di kawasan Pantai Nambo yang akan menjadi pusat kegiatan.
Namun di balik persiapan tersebut, kritik keras datang dari Ikatan Pemuda Nambo. Ketua Ikatan Pemuda Nambo, Hery Kurniawan, menilai pemerintah terkesan mengabaikan persoalan krusial yang justru berdampak langsung pada masyarakat, yakni kondisi infrastruktur jalan yang rusak parah.
Ia menyoroti Jalan Garuda di Kelurahan Nambo, yang merupakan akses utama menuju Pantai Nambo, hingga kini masih dalam kondisi memprihatinkan. Jalan tersebut dipenuhi lubang, rusak berat, dan dinilai membahayakan pengguna.
“Ini bukan sekadar soal mempercantik kota jelang event internasional, tapi soal keselamatan masyarakat. Jalan Garuda sudah rusak bertahun-tahun dan telah memakan banyak korban kecelakaan, namun belum juga mendapat perhatian serius,” tegas Hery.
Menurutnya, momentum besar seperti UCLG ASPAC 2026 dan HUT Kota Kendari seharusnya tidak hanya difokuskan pada penataan visual kota, tetapi juga menyelesaikan persoalan mendasar yang dirasakan warga.
“Jangan sampai kota terlihat indah di depan tamu internasional, tetapi realitas di lapangan diabaikan. Ini menyangkut tanggung jawab pemerintah terhadap keselamatan masyarakat,” lanjutnya.
Hery juga mengingatkan bahwa kewajiban pemerintah dalam menjaga kondisi jalan telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, yang mewajibkan jalan dalam kondisi laik fungsi. Selain itu, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan juga menegaskan tanggung jawab pemerintah terhadap keselamatan pengguna jalan.
“Jika kerusakan jalan dibiarkan hingga menimbulkan kecelakaan, itu bukan sekadar kelalaian, tetapi bentuk pengabaian tanggung jawab negara,” ujarnya.
Ikatan Pemuda Nambo pun mendesak Pemerintah Kota Kendari untuk segera mengambil langkah konkret memperbaiki Jalan Garuda sebelum pelaksanaan kegiatan berlangsung. Perbaikan tersebut dinilai mendesak, bukan hanya demi kelancaran event, tetapi juga sebagai bentuk keadilan bagi masyarakat.
“Kami mendukung pembangunan dan event besar ini, tetapi jangan abaikan akses utama masyarakat yang menjadi urat nadi menuju lokasi kegiatan. Ini sudah terlalu lama dibiarkan,” tutup Hery.
Sorotan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah kota sebagai tuan rumah event internasional tidak hanya diukur dari keindahan tampilan, tetapi juga dari kemampuan menjamin keselamatan, kenyamanan, dan keadilan infrastruktur bagi seluruh warganya.











