METRO

Kepatuhan Aturan Justru Dibayar Teror: Driver Maxim Diancam Parang di Kendari

25
×

Kepatuhan Aturan Justru Dibayar Teror: Driver Maxim Diancam Parang di Kendari

Sebarkan artikel ini

Sultravisionary.id,Kendari – ‎Aksi premanisme jalanan kembali merusak citra keamanan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Seorang pengemudi transportasi daring Maxim menjadi korban intimidasi brutal, padahal ia telah mematuhi aturan yang berlaku.

‎Insiden mencekam terjadi di sekitar kawasan Pelabuhan Wawonii dan sempat terekam kamera amatir. Rekaman tersebut kemudian menyebar luas di media sosial, memicu reaksi keras dari masyarakat.

‎Berdasarkan keterangan saksi mata Enal (30), peristiwa bermula sesaat setelah kapal penyeberangan dari Pulau Wawonii bersandar di dermaga. Sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi dan menjaga ketertiban area pelabuhan, pengemudi tersebut sengaja tidak masuk ke zona terlarang. Ia meminta penumpangnya berjalan sebentar menuju titik penjemputan yang aman di luar kawasan.

“Sopir itu paham betul aturannya, jadi tidak nekat masuk ke dalam pelabuhan. Ia meminta penumpangnya menunggu di luar,” ujar Enal.

‎Namun, kepatuhan itu justru berujung pada bahaya. Begitu penumpang masuk ke dalam mobil, dua pria tak dikenal tiba-tiba memblokir jalan. Mereka secara kasar melarang pengemudi tersebut beroperasi di wilayah itu. Demi keamanan penumpang, sang pengemudi memilih menahan diri dan segera melaju pergi.

‎Ternyata ancaman tidak berhenti sampai di situ. Setelah menurunkan penumpang di tempat tujuan, pengemudi itu kembali dibayangi bahaya. Kedua pria tersebut ternyata telah membuntutinya menggunakan sepeda motor hingga ke jalan yang agak sepi. Di sana, salah satu pelaku nekat mengeluarkan senjata tajam jenis parang dan mengancam nyawa korban.

“Setelah mengantar penumpang, dia dikejar lagi. Salah satu pelaku langsung mengacungkan parang,” tambah Enal.

‎Beruntung, warga sekitar dan pengguna jalan yang melihat kejadian itu segera bergerak cepat. Mereka mengepung dan melerai pertikaian tersebut. Merasa kewalahan, kedua pelaku segera melarikan diri menggunakan sepeda motornya.

‎Hingga berita ini diterbitkan, identitas kedua pelaku belum diketahui. Pihak kepolisian juga belum memberikan keterangan resmi, dan belum dipastikan apakah korban telah membuat laporan resmi terkait ancaman yang dialaminya.

‎Kasus ini kembali menguatkan desakan masyarakat agar aparat penegak hukum bertindak tegas memberantas premanisme. Publik juga menuntut jaminan keamanan bagi seluruh pekerja transportasi daring, terutama di titik-titik fasilitas umum seperti pelabuhan dan terminal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *