Hukrim

Depresi Berat hingga Coba Akhiri Hidup, Siswi Korban Pencabulan Oknum TNI Dilarikan ke RS Bhayangkara Kendari

14
×

Depresi Berat hingga Coba Akhiri Hidup, Siswi Korban Pencabulan Oknum TNI Dilarikan ke RS Bhayangkara Kendari

Sebarkan artikel ini

Sultravisionary.id,Kendari – Tangis MS pecah. Ibu mana yang tega melihat putri tercintanya, AKS (12), kini tak lagi seperti anak-anak seusianya. Trauma mendalam akibat dicabuli oleh oknum anggota TNI Kodim 1417/Kendari, Sertu Majid Bone, telah merenggut paksa keceriaan bocah kelas 6 SD tersebut.

‎Dulu, AKS dikenal sebagai anak yang aktif dan periang di sekolahnya yang terletak di Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel). Namun, peristiwa kelam pada 14 April 2025 mengubah segalanya secara drastis.

‎Sejak malam jahanam itu, AKS mengalami depresi berat. Ia kerap menangis histeris ketakutan, menyakiti diri sendiri, hingga beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri.

‎Kondisi psikologis AKS kian memburuk. Pada Minggu (17/5/2026), AKS mendadak jatuh sakit dan harus dilarikan ke RS Bhayangkara Kendari. Namun, perawatan medis tersebut terpaksa dihentikan lebih awal. Pihak keluarga memilih membawa AKS pulang ke rumah neneknya di Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari, karena korban terus mengamuk.

‎ “Kemarin sakit lagi perutnya, menangis-menangis. Dia tarik-tarik lagi rambutnya, mencakar. Makanya saya bawa ke RS, tapi dia tidak kooperatif saat diperiksa. Ya namanya sakit mental, kasihan. Saya bawa pulang tadi malam, masalahnya dia mengamuk di depan banyak orang,” ungkap MS dengan suara bergetar, Senin (18/5/2026).

‎Keluarga khawatir jeritan ketakutan AKS akan mengganggu kenyamanan pasien lain yang sedang dirawat.

‎MS sebenarnya sangat ingin menyewa kamar isolasi mandiri di rumah sakit agar putrinya bisa dirawat dengan tenang tanpa terganggu hiruk-pikuk orang lain. Namun, apa daya, dinding kemiskinan meruntuhkan harapan itu.

‎Hingga saat ini, upaya memulihkan mental AKS terus diikhtiarkan. Korban kini mulai mengonsumsi obat-obatan khusus serta mendapat pendampingan dari psikolog dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kendari. Meski demikian, hasilnya belum maksimal karena luka batin korban yang terlalu dalam

‎”Ada pendampingan dari DP3A Kota Kendari. Saya mau ambil kamar yang sendiri (isolasi), tapi saya tidak sanggup bayar. BPJS saya menunggak,” keluh MS lirih.

‎Di tengah perjuangan menyembuhkan sang anak, keluarga korban juga harus menelan pil pahit ketidakpastian hukum. Sudah lebih dari satu bulan berlalu, pelaku pencabulan Sertu Majid Bone yang kini berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO) belum juga berhasil diringkus.

‎MS mengaku kebingungan dan hanya bisa berharap kepada pihak berwajib agar pelaku segera ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

‎”Saya hanya berharap pelaku segera ditangkap, agar keadilan bagi anak saya benar-benar ditegakkan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *