METRO

‎Nur Alam Buka Suara soal Polemik Unsultra dan Isu Dana Rp12 Miliar

26
×

‎Nur Alam Buka Suara soal Polemik Unsultra dan Isu Dana Rp12 Miliar

Sebarkan artikel ini

Sultravisionary.id,Kendari – Ketua Pembina Yayasan Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Nur Alam akhirnya buka suara terkait dinamika internal kampus hingga isu dugaan penyelewengan dana Rp12 miliar yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

‎Pernyataan itu disampaikan Nur Alam saat menjadi narasumber dalam sebuah podcast di Studio Citas, Kamis (14/5/2026). Dalam perbincangan tersebut, ia membahas perjalanan sejarah Unsultra, tantangan dunia pendidikan, hingga komitmen yayasan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sulawesi Tenggara.

‎Mantan Gubernur Sulawesi Tenggara dua periode itu menegaskan, pendidikan merupakan fondasi utama kemajuan suatu daerah. Ia bahkan mencontohkan Jepang yang mampu bangkit pasca tragedi Hiroshima dan Nagasaki dengan menjadikan pendidikan sebagai prioritas pembangunan bangsa.

‎“Pembangunan kembali bangsa dimulai dari pendidikan. Karena itu perguruan tinggi memiliki peran sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar Nur Alam.

‎Ia menjelaskan, Unsultra memiliki sejarah panjang sejak berdiri pada 1967 dan terus mengalami penyesuaian mengikuti regulasi pendidikan nasional, termasuk perubahan terhadap Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Yayasan.

‎Menurutnya, pembentukan Yayasan Konsorsium Pendidikan pada 2010 menjadi langkah penting untuk menyelamatkan dan membenahi tata kelola kampus agar sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

‎“Tujuan utamanya membuka akses pendidikan bagi generasi muda Sulawesi Tenggara karena daya tampung perguruan tinggi negeri sangat terbatas,” katanya.

‎Saat ini, kata dia, jumlah mahasiswa Unsultra hampir mencapai 5.000 orang dengan rata-rata pendaftar baru sekitar 1.800 mahasiswa setiap tahun.

‎Dalam podcast tersebut, Nur Alam juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perguruan tinggi, baik dari faktor internal maupun eksternal. Mulai dari perubahan regulasi pemerintah, pergantian kepemimpinan daerah, keterbatasan tenaga pengajar, hingga infrastruktur kampus.

‎Meski demikian, ia optimistis Unsultra mampu terus berkembang apabila seluruh civitas akademika bekerja bersama secara konsisten dan penuh keikhlasan.

‎“Banyak universitas besar di Indonesia yang awalnya berkembang dari kondisi sederhana, tetapi karena konsisten akhirnya menjadi institusi besar dan dipercaya masyarakat,” ujarnya.

‎Menanggapi isu dugaan penyelewengan dana Rp12 miliar yang menyeret nama Unsultra, Nur Alam menegaskan seluruh tuduhan harus dibuktikan melalui audit dan proses hukum resmi.

‎Ia meminta publik tidak langsung mempercayai opini yang berkembang di media sosial tanpa dasar fakta dan data hukum yang jelas.

‎“Kalau ada tuduhan ataupun isu mengenai penyelewengan dana, tentu semuanya harus dibuktikan melalui mekanisme audit dan proses hukum yang berlaku,” tegasnya.

‎Nur Alam menjelaskan, bantuan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara kepada Unsultra pada 2015 merupakan bagian dari dukungan pemerintah daerah terhadap pendidikan tinggi swasta.

‎Menurutnya, program tersebut memiliki dasar hukum yang jelas dan tercatat sebagai belanja modal pemerintah daerah, termasuk aset bangunan yang hingga kini masih digunakan untuk kegiatan akademik program S2 dan S3.

‎“Seluruh mekanismenya berjalan sesuai aturan dan prosedur penganggaran pemerintah,” katanya.

‎Ia juga menegaskan dukungan pemerintah daerah saat dirinya menjabat gubernur tidak hanya diberikan kepada Unsultra, tetapi juga kepada sejumlah lembaga pendidikan dan institusi lainnya.

‎Nur Alam menilai tudingan korupsi yang diarahkan kepadanya lebih banyak dibangun lewat opini dan tidak memahami mekanisme penyusunan anggaran daerah yang melibatkan TAPD, DPRD, hingga konsultasi dengan Kementerian Dalam Negeri sebelum masuk dalam APBD.

‎“Tidak ada istilah anggaran siluman sebagaimana yang dituduhkan,” ujarnya.

‎Ia pun mengingatkan agar setiap pihak yang menyampaikan laporan maupun informasi ke publik terlebih dahulu melakukan investigasi secara objektif dan mendalam.

‎Selain membahas polemik yang berkembang, Nur Alam juga memaparkan target besar Unsultra ke depan, yakni meningkatkan status akreditasi kampus menjadi “Unggul”.

‎Salah satu langkah yang disiapkan adalah pemberian beasiswa program doktoral atau S3 bagi dosen internal kampus.

‎“Tahun ini kami menargetkan sekitar 30 dosen mendapatkan beasiswa program S3. Ini investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas kampus,” ungkapnya.

‎Ia berharap Unsultra dapat terus menjadi perguruan tinggi swasta unggulan di Sulawesi Tenggara dan melahirkan lulusan yang mampu berkontribusi terhadap pembangunan daerah.

‎Sebagai penutup, Nur Alam mengajak seluruh civitas akademika menjaga semangat kebersamaan dan rasa memiliki terhadap kampus.

‎“Kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasil. Kerja yang tulus dan ikhlas juga tidak akan pernah mengkhianati kualitas,” pungkasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *